Minggu, 08 Juni 2008

kuntum-kuntum yang lembut






Wahai jiwa, yang mendiami rumah hatiku
Siapa gerangan yang mencuri kursi singgasana Raja ?
Raja mengoyang-mengoyangkan tubuh ke muka dan belakang
Ia berkata, Apa yang kau inginkan dariku ?


Aku ingin kemanisan cinta
Aku ingin secangkir cahaya
Aku ingin jamuan yang abadi yang terletak di atas meja Kebenaran seseorang


Lihatlah berapa banyak penjual obat di pinggir jalan
Menggoyangkan cangkirnya pada pesta besar peminum anggur ini
Wahai orang –orang yang polos dan lugu
Waspadalah atau kau akan diperdaya


Hati-hatilah !
Jangan duduk di atas meja mereka !
Jika kau tak mau matamu akan terkatup seperti tempat biji bunga
Atau mulutmu akan terbuka seperti kuntum bunga Musim semi


Dunia tak lain adalah sebuah cermin yang menghasilkan
Bayang citra Sempurna dari Cinta
Bagaimana suatu bagian kecil akan lebih besar dari yang seluruhnya ?
Dikebun ini hanya mawar Kekasihku saja yang mekar
Batangnya rendah sepewrti rumput-rumputan
Ia biarkan kuntum-kuntum lembut – Nya menjatuhi kelopaknya


Ia gabungkan dari pedang dan ahli pedang penbunuh dan yang dibunuh
Ia ialah alasan yang menyebabkan semua alasan menjadi tak perlu lagi


Raja yang begitu sempurna ini telah membuat dunia penuh dengan emas
Semoga ia hidup selamanya
Semoga tangannya menjadi rangkain bunga dan kembang
Yang tak pernah terlindas zaman menghiasi lingkar leherku



Jalaludin Rumi

Jumat, 30 Mei 2008

bulan yang redup



dikala bulan bersinar terang
berjuta bintang yang menemani
hari demi hari bulan mencapai kesempurnaan
bersinar dan berseri

namun kini bulan t'lah ternoda
berkubang air mata dan dosa
bintang pun menjauh pergi
dikala bulan membutuhkan
sinar bulan meredup penuh dengan kekecewaan
janji bintang tuk s'lalu menemani kini t'lah diingkari

bulan malu menampakkan diri
bersembunyi dibalik awan hitam
awan hitam meneteskan air
seolah awan ikut berduka atas semua yang menimpa bulan

Puisi cinta dari : Prasasti_cinta_IDA dikirim pada tanggal 14 May 2008